Serba – Serbi Tes Alergi : Skin Prick Test

Salah satu tujuan dilakukannya tes alergi ini adalah untuk mendeteksi apa tubuh si pasien memiliki reaksi alergi, atau pun tidak terhadap substansi juga bahan – bahan tertentu (alergen). Baik itu dilakukan dalam bentuk tes darah atau tes kulit, pada dasarnya prosedur dari pemeriksaan ini umumnya dilakukan oleh pihak dokter konsultan alergi.

Asal Anda tahu saja, bahwa alergi bisa saja terjadi pada saat sistem imunitas tubuh hasilkan reaksi yang berlebih terhadap alergen. Reaksi alergi tersebut bisa saja bervariasi, mulai dari gejala yang ringan hingga adanya reaksi anafilaksis yang cukup berbahaya sekali bagi jiwa. Beberapa contoh dari reaksi alergi ringan diantaranya bersin, gatal, hidung tersumbat, dan mata juga hidup berair.

Biasanya sebelum dilakukan tes alergi, dokter akan menanyakan mengenai gaya hidup, riwayat keluarga, dan ada banyak lagi. Selain itu, Anda mungkin juga akan diberitahu untuk berhenti dulu mengkonsumsi obat – obatan yang biasanya Anda konsumsi. Karena hal tersebut bisa mempengaruhi hasil tes. Contohnya saja seperti obat antihistamin, obat mulas tertentu, omalizumab, dan antidepresan trisiklik.

Serba – Serbi Tes Alergi : Skin Prick Test

Seperti yang sudah kami singgung di awal, bahwa tes alergi ini merupakan jenis tes untuk mengetahui apa anak alergi atau pun mengetahui jenis zat yang sebabkan alergen. Meskipun ada banyak sekali jenis tes alergi yang umumnya dilakukan dokter, tetapi salah satu yang paling sering dilakukan adalah Skin Prick Test atau SPT. Alasannya selain mudah dikerjakan, ternyata tes alergi tersebut cukup aman dengan efek samping yang minimal. Bahkan hasil uji ini bisa dibaca dalam waktu yang cukup cepat, yakni dalam waktu 15 – 20 menit dan dapat dinyatakan positif apabila ada wheal atau area yang menunjukkan reaksi alergi di kulit dengan diameter 3 mm atau lebih.

Apabila Anda memang sedang mengkonsumsi jenis obat antihistamin atau kortikosteroid maka lebih baik berhenti dulu mengkonsumsi obat – obatan tersebut 3 hari sebelum dilakukan tes ini. Tetapi jika tidak mungkin untuk dilakukan, maka SPT bisa dilakukan dengan cara mengukur IgE spesifik.

Penting juga untuk Anda tahu bahwa uji intradermal biasanya dilakukan dengan cara menyuntikkan alergen sekitar 0.02 – 0.03 ml secara intradermal, hingga akhirnya membentuk wheal sebesar 3 mm dan bisa dibaca 15 – 20 menit setelah dilakukan penyuntikan. Hasilnya akan dinyatakan positif apabila wheal bertambah 3 mm dari wheal awal, bisanya hal ini diikuti dengan adanya kemerahan di sekitar wheal.

Uji intradermal umumnya juga memiliki beberapa resiko anafilaksis yang jauh lebih besar dibandingkan dengan SPT sendiri. Terutama pada jenis alergi yang dicurigai tipe cepat, maka penting sekali untuk dilakukan pemeriksaan SPT terlebih dulu. Tetapi demikian apabila memang ditemukan hasil yang negatif, maka akan dilakukan pemeriksaan dengan uji intradermal.

Lain halnya pada reaksi dengan tipe lambat, maka pemeriksaan bisa dilakukan dengan uji trandermal dan uji provokasi sebagai tindakan akhirnya. Patch test atau uji trandermal ini dilakukan untuk bisa membuktikan bahwasannya alergi dikarenakan adanya kontak langsung dengan alergen. Beberapa zat yang menjadi penyebab utama alergi akan ditempelkan pada kulit dengan tempelan khusus selama 48 – 72 jam. Tentu saja, setiap jenis tes alergi sebaiknya dilakukan di klinik alergi, atau pun di rumah sakit untuk mengatasi kondisi syok anafilaksis.

Demikian informasi yang bisa kami bagikan tentang serba – serbi tes alergi, Skin Prick Test. Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *